RedBlueGreen SmallMediumLarge WideNarrowFluid
KONSEP KERJASAMA SEKOLAH DAN INDUSTRI PDF Print E-mail
Thursday, 20 January 2011 13:05
Article Index
KONSEP KERJASAMA SEKOLAH DAN INDUSTRI
Tujuan
Manfaat
Ruang Lingkup Program
Landasan Hukum
Organisasi
Pola Kerjasama
Strategi
Kesimpulan
All Pages

1. LATAR BELAKANG

Tingkat keberhasilan pembangunan nasional Indonesia di segala bidang akan sangat bergantung pada sumber daya manusia sebagai aset bangsa. Untuk mengoptimalkan dan memaksimalkan perkembangan seluruh sumber daya manusia yang dimiliki, dilakukan melalui pendidikan, baik melalui jalur pendidikan formal maupun jalur pendidikan non formal. Perkembangan dunia pendidikan saat ini sedang memasuki era yang ditandai dengan gencarnya inovasi teknologi, sehingga menuntut adanya penyesuaian sistem pendidikan yang selaras dengan tuntutan dunia kerja. Pendidikan harus mencerminkan proses memanusiakan manusia dalam arti mengaktualisasikan semua potensi yang dimilikinya menjadi kemampuan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat luas. Salah satu lembaga pada jalur pendidikan formal yang menyiapkan lulusannya untuk memiliki keunggulan di dunia kerja, diantaranya melalui jalur pendidikan kejuruan.

 

 


 

2. TUJUAN

Prinsip kerjasama industri antara sekolah dengan dunia kerja pada akhirnya mempunyai tujuan untuk mempercepat waktu penyesuaian bagi lulusan Sekolah Kejuruan dalam memasuki dunia kerja yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu sekolah menengah kejuruan. Pelaksanaan kerjasama sekolah dengan dunia kerja merupakan suatu strategi dalam mengatasi keterbatasan sumber daya yang ada di sekolah dalam rangka mengembangkan sekolah. Dalam hal mengembangkan kerjasama antara sekolah dengan industri, sekolah harus bersikap bahwa sekolah lebih berkepentingan, dengan sikap seperti ini, sekolah harus selalu mengambil inisiatif mendekati industri. Juga yang perlu dipikirkan adalah agar yang ditawarkan sekolah tersebut sesuatu yang betul-betul dapat dirasakan membantu industri. Puncak dari pelaksanaan kerjasama antara sekolah dengan industri dapat melembaga menjadi institusi kemitraan.

 


 

3. MANFAAT

3.1 Bagi Sekolah

  1. Mengetahui informasi tentang dunia kerja yang relevan dengan program studi yang ada di sekolah.
  2. Memperluas wawasan tentang teknologi baru.
  3. Pengalaman industri bagi guru magang.
  4. Industri sebagai sumber pengembangan sekolah.
  5. Peningkatan keterampilan dan pengalaman kerja guru.
  6. Sarana sebagai penyaluran tenaga kerja.
  7. Tempat mengirim siswa PKL/ PRAKERIN.
  8. Sumber pengembangan sekolah dan lulusannya.
  9. Tempat Pembelajaran Praktek (Teaching by Factory)
  10. Meningkatkan daya saing lulusan
  11. Mengurangi waktu tunggu lulusan

3.2 Bagi Siswa

  1. Peningkatan keterampilan.
  2. Pengalaman bekerja sebagai karyawan (work Habit)
  3. Informasi bimbingan karakter.
  4. Memperluas wawasan.

3.3 Bagi Industri :

  1. Promosi perusahaan.
  2. Sebagai pengabdian masyarakat.
  3. Alih teknologi dan informasi.
  4. Mendapat sumber tenaga kerja.
  5. Tambahan daerah pemasaran.


4. RUANG LINGKUP PROGRAM

Dalam rangka optimalisasi dari seluruh sarana dan prasarana didalam institusi sekolah menengah kejuruan, dan untuk memudahkan kerjasama kemitraan maka perlu diberikan lingkup kegiatan yang memungkin kan kedua belah pihak bisa melakukan implementasi kegiatan , maka jenis program yang akan dilakukan sebagai berikut:

  1. Program Permagangan
  2. Program Pelatihan
  3. Program Produksi (produk inovatif)
  4. Program Penyaluran Lulusan


5. LANDASAN HUKUM

Sebagai kekuatan hukum secara Yuridis Formal, dan untuk meningkatkan kepercayaan dunia usaha dan dunia industri maka perlu adanya Perjanjian kerjasama yang terlebih dahulu dilakukan anatara Industri yang mungkin diwakili oleh Apindo atau lembaga profesi dengan  lembaga pemerintah yang lebih tinggi,yaitu dinas pendidikan dimasing masing wilayah setingkat Provinsi yang diterjemahkan sebagai  MoU induk atau payung hukum yang lebih besar,dan pada setiap unit kerjasama, akan dilanjutkan dengan MoU di tingkat sekolah kejuruan (SMK) dengan masing masing industri sesuai dengan kebutuhannya masing masing.


6. ORGANISASI

Sekolah harus bersikap bahwa sekolah lebih berkepentingan, dengan sikap seperti ini, sekolah harus selalu mengambil inisiatif mendekati industri, untuk memaksimalkan seluruh kegiatan kerjasama antara Sekolah kejuruan dan Industri maka sudah sangat perlu adanya wadah formal dari Organisasi sekolah yang akan mengelola seluruh kegiatan, mulai dari tahap penjajakan sampai pada tahap implementasi, maka perlu adanya satu bidang khusus yang berada dibawah kepala sekolah atau sebut saja wakil kepala sekolah bidang kerjasama dan pelayanan industri (industrial service) pada proses kerjanya akan dibuatkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang merupakan guide line dalam melakukan seluruh kegiatan kerjasama kemitraan industri.

 

Gambar  1. Bagan dari Organisasi Pengelola Kerjasama


7. POLA KERJASAMA

7.1 Pola Kerjasama Program Permagangan/PKL

Kombinasi pembelajaran teori di ruang kelas dan perpustakaan (theoretical learning) dan pembelajaran praktek di lab (practical learning) dirancang sedemikian rupa dalam rangka menghasilkan lulusan dengan tingkat mutu tertentu yang siap memasuki dunia kerja. Keberhasilan pendidikan vokasi tidak hanya diukur dari segi mutunya saja melainkan juga dari segi relevansinya. Hubungan mutu dan relevansi ibarat dua sisi dari satu keping mata uang. Mutu lulusan pendidikan vokasi dianggap relevan oleh para pengguna lulusan, yang dalam hal ini adalah sektor dunia usaha dan dunia industry (DUDI) apabila apa yang mereka dapatkan sama dengan atau lebih besar dari yang mereka harapkan. Kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya, dimana DUDI menilai bahwa lulusan pendidikan vokasi belum siap kerja, mereka over qualified but under experience . Berdasarkan pengalamannya, banyak pre-rekruit menghadapi dilema dimana banyak pelamar yang memiliki potensi tinggi harus direlakan untuk tidak diseleksi lebih lanjut karena tidak memiliki pengalaman kerja yang relevan sebagaimana seringkali diminta pada iklan-iklan lowongan kerja.

Sekarang dan kedepan, para penyedia kerja mengharapkan dari para lulusan tidak hanya memiliki pengetahuan dari bidang studi atau keakhliannya saja, tetapi juga kemampuan adaptasi terhadap lingkungan kerja baru dimana mereka bergabung, membawa keterampilan-keterampilan komunikasi yang luar biasa, kemampuan memimpin dan dipimpin, dan kemampuan yang teruji dapat berfungsi secara efisien dan efektif. Ini berarti bahwa transferable skills penting bagi para siswa. Transferable skills adalah keterampilan-keterampilan atau kemampuan-kemampuan yang dapat di-aplikasikan dengan sama dari pekerjaan satu ke pekerjaan lainnya. Keterampilan-keterampilan ini juga dikenal dengan keterampilan keterampilan kunci (key skills), keterampilan-keterampilan jenerik (generic skills) atau keterampilan-keterampilan inti (core skills). Keterampilan-keterampilan tersebut meningkatkan employability lulusan dan dapat diperbaiki melalui pembelajaran di tempat kerja. menyisakan selisih negatif mahasiswa perlu mendapatkan experiential learning. Disamping itu fasilitas laboratorium yang tersedia pada umumnya di set up berupa miniatur simulatif inkubatif eksperimentatif sebagai sarana belajar bukan untuk memproduksi barang atau/dan jasa yang riil untuk pasar.

Pengalaman kerja sama sekali berbeda dari eksperimen dan tidak dapat digantikan oleh laboratorium. Bekerja di industri adalah cara terbaik untuk mempelajari sikap professional, interpersonal skills. Juga berbeda dengan pembelajaran di kelas yang lebih didasarkan pemerolehan se-set keterampilan teknis, dan kegiatan-kegiatan pengajaran formal yang membekali peserta didik dengan pengetahuan, skills dan konsep-konsep, dan penekanan pada keterampilan-keterampilan kognitif. WBL berbeda dari pembelajaran di kelas karena fokusnya pada pembelajaran reflektif atas apa-apa yang dikerjakan. Pembelajaran di tempat kerja atau program sandwich atau kerjasama pendidikan atau penempatan kerja atau magang, bukan apprenticeship. Sedangkan pembelajaran di tempat kerja adalah suatu pembelajaran yang terstruktur dimana seseorang peserta didik diminta untuk bekerja di suatu perusahaan atau organisasi dalam suasana kerja yang sesungguhnya dengan tujuan belajar dari kerja dengan disupervisi oleh tutor akademik dan supervisor di tempat kerja, belajar secara mandiri yang didukung oleh kontrak-kontrak pembelajaran dan petunjuk-petunjuk pembelajaran. DUDI lebih suka lulusan yang punya pengalaman kerja dengan alasan mereka dapat bekerja secara mandiri dalam waktu yang tidak begitu lama setelah diterima kerja. Kerjasama permagangan dilakukan sebagai upaya pengembangan keterampilan siswa SMK dalam bentuk kerja nyata industri yang diharapkan juga dapat memberikan keuntungan bagi industri untuk memanfaatkan mereka sebagai tenaga kerja bantu pada level operasional dan juga industri bisa memanfaatkan moment ini sebagai program prerecruitment bagi siswa yang memiliki job preferment yang baik sehingga pola ini bisa berlanjut sebagai awal untuk recruitment karyawan tingkat operator,pola kerjasama bisa dilakukan secara berkesinambungan,dan secara teknis sekolah yang harus berinisiatif untuk mengiformasikan ke pihak industry mengenai jadwal dan waktu, sehingga antara industri dan sekolah secara bersama sama membuat komitmen dengan payung MoU,.Sebagai panduan Pola kerjasama ini akan dilengkapi dengan SOP (Standar Operasional Prosedur)  yang lebih detail.

 

7.2 Pola Kerjasama Program Pelatihan

Pelatihan  dan  pengembangan yang dilakukan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia telah dilakukan dengan berbagai pendekatan yang bersifat konvensional (pedagogis) Pelatihan adalah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian, pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap seorang individu. Pelatihan berkenaan dengan perolehan keahlian-keahlian atau pengetahuan tertentu.

Pada pola kerjasama Program Pelatihan ini dititik beratkan pada optimalisasi seluruh  sumberdaya yang ada di sekolah untuk bisa digunakan pada proses pelatihan bagi tenaga pelaksana industri dan juga merupakan sarana untuk menjadikan kemitraan dengan industri agar tetap berkesinambungan, dengan pola kerjasama pelatihan ini diharapkan bahwa kedekatan industry dengan sekolah akan tetap terjaga dengan inten, karena terjadi ikatan yang saling membutuhkan dan saling memberikan manfaat.

Pola kerjasama ini harus dilakukan dengan inisiatif awal dari sekolah dengan pola jemput bola , mendatangi industri untuk mencari kebutuhan kompetensi yang bisa mendorong kemajuan industri dari sisi kemampuan sumberdaya manusia minimal untuk tingkat pelaksana (operator) industri, yang pada akhirnya industri akan tumbuh dan berkembang melalui penambahan kompetensi,dan sekolah bisa menjamin pola pelatihan,peralatan yang tersedia dan para pengajar memang memiliki kemampuan.

Untuk memberikan kepercayaan kepada industri pola ini akan dibuat secara detail dan terinci dalam Guide line pelatihan, dan akan dilindungi dengan payung Mou yang lebih jelas.

Proses pelaksanaan akan ditangani secara professional oleh unit pelaksana teknis produksi dan training dibawah bidang kerjasama dan pelayanan Industri disetiap Sekolah Kejuruan (SMK).

7.3 Pola Kerjasama Program Produksi (Produk Inovatif)

Pola kerjasama dalam bidang produksi adalah suatu upaya dalam implementasi kurikulum, dengan metoda Production Base Education (PBE), dengan harapan untuk lebih mempertajam kompetensi yang didapatkan dari para siswa, hal ini bisa dilakukan apabila set-up peralatan dan sarana lab. dan bengkel memadai untuk melakukan kegiatan produksi disamping tuntutan kompetensi para pengajar yang paling tidak setara dengan para supervisor industry, baik secara hard skill atau pun soft skill,pola ini lah nanti yang bisa disebut dengan Teaching factory, dan ini bisa berjalan dengan efektif apabila pihak sekolah mampu meyakinkan industry disekitarnya untuk menjadi mitra dalam kegiatan produksi dan sekaligus menjadi vendor dari industri disekitarnya.

Proses pelaksanaan akan ditangani secara professional oleh unit pelaksana teknis Produksi dan training dibawah bidang kerjasama dan pelayanan Industri disetiap Sekolah Kejuruan (SMK).

7.4 Pola Kerjasama Program Penyaluran Lulusan

Pola kerjasama Program Penyaluran lulusan adalah ujung tombak dari seluruh program, karena inilah yang akan menjadi tolak ukur dari keberhasilan dalam proses akhir dari kegiatan pembelajaran dengan harapan bahwa semua output menjadi outcome, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan kerjasama industry kemitraan dalam proses recruitment lulusan, hal ini harus dilakukan dengan inisiatif dari pihak sekolah menyampaikan data dan kompetensi dari lulusan dan bisa memberikan jaminan bahwa lulusan yang akan disalurkan memeiliki kompetensi yang memadai dan sesuai dengan standar kebutuhan industri, baik secara Knowledge Skills dan Attitude.

Proses pelaksanaan akan ditangani secara professional oleh unit pelaksana teknis PKL dan Penyaluran , dibawah bidang kerjasama dan pelayanan Industri disetiap Sekolah Kejuruan (SMK).


8. Strategi

8.1. School  Recruitment

Kegiatan recruitment SDM langsung disekolah yang dilakukan oleh Dunia Industri dengan berbagai tahapan seleksi/proses screening. Pihak sekolah harus menyiapkan sarana dan prasarana,sebagai salah satu bentuk service kepada dunia usaha atau dunia Industri.

8.2. School Career Fair,

Pameran Bursa Sekolah  dalam bentuk pasar kerja yang dilaksanakan pasca lulusan /pelepasan siswa, Bidang kerjasama dan pelayanan Industri disetiap Sekolah Kejuruan (SMK), dalam hal ini sebagai penyelenggara kegiatan mengundang Dunia Industri hadir dengan berbagai acara selain job vacancy juga berbagai kegiatan termasuk berbagai lomba keterampilan sehingga intinya adalah menunjukan semua kompetensi yang dimiliki,untuk ditawarkankepada kepada Industri.

8.3. Pengiriman SDM  Ke Perusahaan

Kegiatan ini dilaksanakan oleh bidang kerjasama dan pelayanan industri , dimana setiap ada permintaan SDM baik untuk PKL maupun untuk calon tenaga kerja dari perusahaan, senantiasa men support nya dengan mengirimkan dan ikut mendampingi  beberapa siswa /alumni sesuai dengan jumlah SDM yang diminta.

8.4.    Recruitment Process

Secara professional  unit pelaksana teknis PKL dan Penyaluran , dibawah bidang kerjasama dan pelayanan Industri disetiap Sekolah Kejuruan (SMK). menampung berkas lamaran yang Siswa/alumni kirimkan untuk di followup ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan SDM. Dengan Recruitment CV dari siswa/alumni akan sangat memudahkan perusahaan dan siswa/alumni itu sendiri untuk memanfaatkan lowongan pekerjaan yang up to date .

Pengiriman sejumlah database siswa/alumni berdasarkan sortir dan filterasi kualifikasi yang diminta untuk kebutuhan SDM perusahaan/Industri.

8.5.  Come To Company

Metode jemput bola yang dilakukan Secara professional oleh unit pelaksana teknis PKL dan Penyaluran , dibawah bidang kerjasama dan pelayanan Industri disetiap Sekolah Kejuruan (SMK), berkunjung untuk menjelaskan berbagai hal tentang apa yang dimiliki oleh sekolah termasuk kompetensi apa yang sudah diberikan kepada siswa/alumni  keberbagai dunia industri dan dunia usaha sebagai upaya untuk meningkatkan nilai jual sekolah dan meningkatkan tingkat kepercayaan industri melakukan kerjasama dibidang khususnya recruitment/penyaluran.


9. Kesimpulan

Dari beberapa penjelasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan :

1. Sebagai pendidikan kejuruan (Vokasi), orientasi pendidikannya harus diarahakan pada kebutuhan dunia kerja atau dunia industri dengan pola pendekatana kemitraan yang berkesinambungan.

2. Untuk mendekatkan dan mempermudah mendapatkan kepercayaan industri kepada institusi sekolah maka perlu dibangun payung hukum yang lebih besar melalui MoU Induk dengan lembaga pemerintah yang setingkat Provinsi, baru dilanjutkan dengan MoU tingkat Sekolah.

3. Semua program bisa berjalan apabila pihak sekolah selalu mengambil inisiatif dengan cepat dan cermat, didukung oleh organisasi yang terintegrasi,serta dengan effort (usaha) yang lebih keras diawal awal program, ini merupakan strategi untuk mendapatkan kepercayaan dari dunia industri.

 

 

 

Last Updated on Saturday, 19 November 2011 15:41
 

Main Menu